June 05, 2013

Sejarah Singkat Asal Usul Tanaman Cathinone

Images | Google
Chathinone nama aslinya yaitu Catha Edulis yang tumbur subur di daerah Afrika dan daratan Arab. Secara tradisional masyarakat Afrika Timur digunakan sebagai obat dan dengan komponen utamanya yaitu Cathinone dan Cathine (Norpseudoephedrine)

Menurut Wikipedia, Chatinone adalah zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan catha edulis yang biasa disebut Khat. Tumbuhan ini banyak ditermukan di Azebeijan. Secara susunan kimiawi, Chatinone memiliki kemiripan dengan ephedrine, cathine dan berbagai zat amphetamine lainnya.

Chatinone diketahui dapat menimbulkan beberapa efek samping, misalnya euforia dan kesegaran. Karena efeknya itulah, dalam konsensus psikotropika Internasional tahun 1971, dinyatakan sebagai zat terlarang. Bahkan sejak tahun 1993, badan pemberantasan penyelundupan Narkoba di negara Federal Amerika Serikat menyatakan Chatinone sebagai salah satu zat terlarang dan keberadaannya memerlukan pengaturan khusus.

Memang negara-negara di Eropa maupun Amerika belum sepenuhnya melarang peredaran Chatinone ini. Namun di Amerika untuk mengkonsumsi Chatinone ini harus menggunakan izin dokter.

Sebagian negara bahkan sudah melarangnya dengan keras. Diantara negara yang sudah melarang peredaran Chatinone secara bebas adalah AS, Kanada, Australia, Polandia, Norwegia, Belanda, Jerman, Irlandia dan Prancis. Sementara beberapa negara di Afrika membebaskan peredaran Cathinone ini seperti Ethiopia, Somalia dan Kenya.
Foto: ibtimes.com

Cara mengkonsumsi daun Khat (Chatinone) dengan cara dikunyak, seperti orang mengkuyah daun sirih. Bedanya saja, kalau daun khat mengandung zat “Chatinone” secara kimiawi yaitu amphetamine (bahan baku pembuatan ekstasi).  

Sementara itu, di Indonesia Cathinone bukanlah Narkotika jenis baru, karena sudah sejak lama orang mengenalnya dalam bentuk tanaman Khat yang sering digunakan untuk menambah gembira dan semangat sewaktu pesta.

Dalam UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pada Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2009 Nomor 5062, zat ini tertulis dengan nama Katinona (-)-(S)-2- aminopropiofenon dan termasuk Narkotika Golongan I. Cathinone dapat dibuat extracted catha edulis atau sintesis dari 2-bromopropiophenone yang mudah dibuat dari propiophenone.

Cathinone atau benzoylethanamine di Israel disebut Hagigat, merupakan monoamine alkaloid pohon Catha edulis (khat) yang secara kimia mirip dengan ephedrin (bahan dasar ekstasi). Cathinone menyebabkan pelepasan neurotransmitter dopamine dalam otak yang menimbulkan perasaan euforia, nyaman dan bahagia. 

Image/Google

Seseorang akan merasakan kepuasan dan bahagia setelah menyantap hidangan lezat atau melakukan hubungan seks karena kadar neurotransmitter dopamine di dalam otaknya meningkat 100 - 150 persen dari pada baseline (natural rewards elevate dopamine levels). Sementara, bila yang bersangkutan menggunakan ATS (amphetamine like substance) termasuk cathinone peningkatan dapat mencapai 1.000 persen (effects of drugs on dophamine levels).

Untuk membuktikan ada tidaknya cathinone dalam tubuh yang bersangkutan, dapat dilakukan dengan melakukan tes urine, tes darah, dan tes rambut (Pasal 74 huruf 1 UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika). 

Di beberapa wilayah khat dijual legal, sedangkan di wilayah lain ilegal. Cathinone sintetik juga digunakan apada acara rekreasi yang dicampur dengan bahan  lain (bath salt), bila digunakan bersama heroin disebut speedball (Rusia).

Menurut Teddy Hidayat, Psikiater, Kepala Prodi Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Padjadjaran -  Bandung, pengguna Cathinone akan menurunkan napsu makan, cemas, mudah tersinggung, sulit tidur, halusinasi, dan serangan panik.

Images/Google
Penggunaan kronik dapat mengubah kepribadian penggunanya dan berisiko mendapat serangan jantung (miokard imfark). Selain itu, obat ini erat kaitannya dengan ephedrone yang lebih kuat melepaskan neurotransmitter serotonin dibandingkan dengan Cathinone atau Methcathinone sehingga sering digunakan sebagai party pills yang di beberapa wilayah "legal" sebagai pengganti MDMA. Seseorang yang menggunakan obat ini dalam darah dan urinenya akan ditemukan cathinone dan norephedrine sebagai metabolitnya.

Images/Google
Pengguna MDMA, ekstasi, sabu dan juga cathinone akan menunjukkan gejala psikologis seperti waspada berlebihan, kegelisahan, mondar-mandir, banyak bicara, dan tekanan pada pembicaraan, rasa nyaman, dan elasi. Mungkin juga menjadi lebih agresif, perilaku kekerasan, dan daya nilai terganggu. Selain itu, dapat memperlihatakan gejala fisik seperti jantung berdebar, hipertensi, dilatasi pupil, menggigil dan diaforesis, anoreksia, mual dan muntah, serta insomnia.

Penghentian obat pada pemakai berat dapat diikuti gejala depresi ringan sampai berat, kelelahan berat, mudah marah, cemas, ketakutan, mimpi buruk, dan insomnia atau hipersomnia. Gejala berat jarang berlangsung lebih dari satu minggu, tetapi dapat diikuti depresi kronis dan kecemasan ringan. 

Writer, Sumadi Arsyah / dbs

Artikel Terkait